Kabel Internet Selat Hormuz, Benarkah Bisa Jadi Mesin Uang Baru Iran? Isu kabel internet bawah laut di Selat Hormuz kembali menyita perhatian setelah sejumlah media yang terkait dengan Iran menyuarakan gagasan agar jalur digital di kawasan itu dapat menjadi sumber penerimaan baru. Selama ini Selat Hormuz lebih sering dibicarakan sebagai jalur minyak dan gas. Namun, perhatian kini ikut mengarah ke kabel serat optik bawah laut yang membawa lalu lintas data lintas negara, termasuk layanan komunikasi, perbankan, komputasi awan, perdagangan digital, dan koneksi pusat data.
Selat Hormuz Tidak Lagi Hanya Soal Kapal Minyak
Selat Hormuz selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu jalur laut paling sensitif di dunia. Perairan sempit ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Di sisi utara terdapat Iran, sementara di sisi selatan terdapat Oman. Lebarnya disebut sekitar 35 sampai 60 mil, dengan jalur pelayaran utama yang sebagian besar berada di perairan Oman dan diatur hukum maritim internasional.
Jalur Kecil Dengan Nilai Ekonomi Raksasa
Selat ini menjadi jalur utama ekspor energi dari negara negara Teluk. Minyak dan gas dari Iran, Irak, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, serta Arab Saudi bergerak melalui kawasan ini sebelum masuk ke pasar Asia dan dunia. Data Britannica menyebut lebih dari 20 persen ekspor minyak dan gas alam cair global melewati Selat Hormuz.
Karena posisinya yang sangat penting, setiap ketegangan di kawasan ini biasanya langsung membuat pelaku pasar energi dan keamanan global ikut waspada. Satu gangguan kecil dapat memicu kekhawatiran terhadap pasokan, biaya pelayaran, asuransi kapal, hingga rute perdagangan.
Kini Sorotan Bergeser Ke Jalur Data
Perubahan perhatian terjadi karena Selat Hormuz bukan hanya dilewati tanker minyak. Di dasar lautnya, terdapat kabel kabel serat optik yang menghubungkan kawasan Teluk dengan India, Asia Tenggara, Eropa, dan Mesir. Reuters melaporkan beberapa kabel penting yang melewati kawasan ini antara lain Asia Africa Europe 1, FALCON, dan Gulf Bridge International Cable System.
Kabel semacam ini bekerja sunyi, tetapi nilainya sangat besar. Tanpa kabel bawah laut, banyak layanan digital yang dianggap biasa sehari hari akan terganggu, mulai dari transfer data antarbank, transaksi daring, panggilan video, pusat data, layanan gim, hingga koneksi perusahaan lintas negara.
Gagasan Menarik Uang Dari Kabel Bawah Laut
Wacana menjadikan kabel internet bawah laut sebagai sumber penerimaan muncul dari media yang disebut terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran. Iran International melaporkan bahwa media tersebut membingkai Selat Hormuz bukan hanya sebagai jalur energi, melainkan juga titik tekanan digital.
Dari Jalur Energi Menjadi Gerbang Digital
Gagasan yang muncul adalah Iran dapat meminta bayaran kepada perusahaan internasional yang memakai kabel serat optik bawah laut di kawasan Selat Hormuz. Media tersebut juga menyebut lalu lintas keuangan digital bernilai sangat besar bergerak melalui jaringan kabel ini setiap hari. Klaim angka sebesar itu masih perlu dibaca hati hati karena tidak selalu berarti Iran memiliki kuasa hukum penuh untuk menarik pungutan.
Meski begitu, pesan politiknya jelas. Iran ingin menunjukkan bahwa kekuatan Selat Hormuz tidak hanya berasal dari tanker minyak, tetapi juga dari infrastruktur digital yang tertanam di dasar laut. Dalam persaingan geopolitik, kabel internet kini diperlakukan sebagai aset strategis, bukan sekadar urusan teknis perusahaan telekomunikasi.
Usulan Biaya, Izin, Dan Pengawasan
Amwaj Media melaporkan bahwa gagasan yang beredar mencakup biaya infrastruktur per meter serta royalti perizinan bagi operator asing yang merutekan kabel melalui kawasan tersebut. Rencana semacam ini disebut masih berupa usulan yang dilontarkan media, bukan kebijakan final yang sudah berjalan.
Di titik inilah pertanyaan besar muncul. Apakah Iran benar benar bisa mengubah kabel bawah laut menjadi mesin uang baru? Jawabannya tidak sederhana. Iran memang memiliki posisi geografis penting, tetapi pengelolaan kabel bawah laut menyentuh hukum laut internasional, perjanjian antarnegara, kepentingan operator global, serta hak negara pesisir lain seperti Oman.
Mengapa Kabel Bawah Laut Begitu Mahal Dan Penting
Kabel bawah laut adalah tulang punggung internet dunia. International Telecommunication Union menyebut kabel bawah laut membawa sekitar 99 persen lalu lintas internet dunia dan menopang layanan penting seperti transaksi keuangan, komputasi awan, serta komunikasi pemerintah. Pada 2024, lebih dari 500 sistem kabel telekomunikasi bawah laut aktif dan terencana diperkirakan membentang di seluruh dunia.
Internet Global Tidak Bergantung Pada Satelit Saja
Banyak orang membayangkan internet internasional berjalan melalui satelit. Kenyataannya, satelit hanya menjadi pelengkap. Volume data terbesar bergerak melalui kabel serat optik di dasar laut karena kapasitasnya jauh lebih tinggi dan latensinya lebih rendah.
Kabel bawah laut memungkinkan pusat data di satu negara terhubung cepat dengan pengguna di negara lain. Layanan streaming, bank digital, transaksi pasar modal, sistem logistik, kecerdasan buatan, hingga komunikasi pemerintahan sangat bergantung pada jaringan ini.
Nilai Ekonomi Ada Pada Arus Data
Nilai kabel bawah laut bukan hanya terletak pada fisik kabelnya, melainkan pada arus data yang melewatinya. Setiap detik, data bisnis, komunikasi pribadi, perdagangan, dan layanan publik bergerak melalui jalur ini. Karena itu, negara yang berada di dekat titik sempit jalur kabel dapat memiliki posisi tawar tertentu.
Namun, posisi tawar tidak otomatis berarti hak penuh untuk memungut bayaran. Kabel bawah laut biasanya dibangun melalui konsorsium perusahaan dan melewati banyak yurisdiksi. Setiap jalur memerlukan izin, survei dasar laut, perlindungan teknis, serta kesepakatan dengan negara tempat kabel mendarat atau melewati wilayah perairan tertentu.
Tiga Kabel Utama Yang Jadi Perhatian
TeleGeography mencatat tiga kabel aktif yang melintasi Selat Hormuz, yaitu Asia Africa Europe 1, FALCON, dan Gulf Bridge International Cable System. Posisinya membuat kawasan ini menjadi simpul penting bagi komunikasi negara negara Teluk.
Asia Africa Europe 1
Asia Africa Europe 1 dikenal sebagai salah satu kabel besar yang menghubungkan Asia Tenggara, Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika, dan Eropa. Reuters menyebut kabel ini memiliki titik pendaratan di Uni Emirat Arab, Oman, Qatar, dan Arab Saudi.
Keberadaan kabel ini penting karena ia menjadi bagian dari jalur data lintas benua. Jika terjadi gangguan di salah satu ruas, operator jaringan biasanya perlu mengalihkan lalu lintas melalui jalur lain. Pengalihan itu bisa menambah beban jaringan dan menurunkan kualitas layanan di wilayah tertentu.
FALCON Dan Gulf Bridge International
FALCON menghubungkan India dan Sri Lanka dengan negara negara Teluk, Sudan, dan Mesir. Sementara Gulf Bridge International Cable System menghubungkan negara negara Teluk, termasuk Iran. Reuters menyebut kedua sistem ini masuk dalam jaringan penting yang melewati kawasan Hormuz.
Bagi negara negara Teluk yang sedang memperbesar investasi pusat data dan kecerdasan buatan, jaringan bawah laut adalah fondasi utama. Tanpa koneksi internasional yang stabil, pusat data tidak bisa bekerja sebagai simpul regional yang melayani pelanggan lintas negara.
Apakah Iran Bisa Memungut Bayaran Begitu Saja?
Gagasan menarik uang dari kabel bawah laut terdengar menggiurkan, tetapi pelaksanaannya menghadapi banyak hambatan. Salah satu faktor utamanya adalah lokasi kabel dan aturan hukum laut internasional.
Banyak Kabel Melewati Perairan Oman
TeleGeography menjelaskan bahwa karena persoalan lama terkait Iran, seluruh kabel yang melewati Selat Hormuz diletakkan di perairan Oman ketika melintasi selat tersebut. Ini penting karena melemahkan klaim bahwa Iran bisa begitu saja mengatur seluruh kabel yang melewati kawasan Hormuz.
Jika kabel berada di perairan Oman atau melewati jalur yang berada di luar kewenangan langsung Iran, maka pungutan sepihak akan sulit diterapkan tanpa menimbulkan sengketa besar. Operator kabel juga tidak mudah menerima biaya baru yang tidak memiliki dasar hukum kuat.
Hukum Laut Membatasi Klaim Sepihak
Selat Hormuz adalah jalur internasional yang dipakai untuk pelayaran dan komunikasi lintas negara. Britannica mencatat jalur pelayaran utama sebagian besar berada di perairan Oman dan diatur oleh hukum maritim internasional.
Dalam urusan kabel, negara pesisir dapat mengatur hal tertentu di wilayahnya, terutama terkait keamanan, lingkungan, dan izin pendaratan. Namun, kebebasan pemasangan kabel di zona tertentu juga diakui dalam hukum laut internasional. Karena itu, gagasan pungutan besar dari Iran dapat memicu perlawanan hukum dan diplomatik.
Ancaman Gangguan Lebih Nyata Daripada Pungutan
Jika pungutan sepihak sulit diterapkan, ancaman terhadap keamanan kabel justru lebih membuat pasar gelisah. Reuters melaporkan Iran pernah memperingatkan bahwa kabel bawah laut di Selat Hormuz menjadi titik rentan bagi ekonomi digital kawasan.
Kerusakan Kabel Bisa Mengganggu Layanan Digital
Kabel bawah laut dapat rusak karena jangkar kapal, aktivitas penangkapan ikan, gempa bawah laut, arus kuat, atau tindakan sabotase. Reuters mengutip data bahwa kerusakan kabel global berada di kisaran 150 sampai 200 kejadian per tahun, dan sebagian besar dipicu aktivitas manusia yang tidak disengaja, terutama jangkar kapal serta kegiatan perikanan.
Dalam suasana konflik, risiko kerusakan tidak sengaja ikut naik. Kapal yang rusak, terseret arus, atau membuang jangkar di lokasi sensitif dapat melukai kabel. Gangguan seperti ini bisa memperlambat koneksi, mengganggu transaksi keuangan, dan memaksa operator mengalihkan data ke jalur lain.
Perbaikan Kabel Di Kawasan Panas Tidak Mudah
Perbaikan kabel bawah laut memerlukan kapal khusus. Reuters menyebut perbaikan di zona konflik menjadi rumit karena izin masuk perairan, risiko ranjau, keamanan kapal, serta keputusan perusahaan asuransi. TeleGeography juga menjelaskan bahwa kapal pemeliharaan harus mendapat izin terlebih dahulu, lalu berada cukup lama di titik kerusakan saat memperbaiki kabel.
Jika Selat Hormuz sulit diakses, perbaikan kabel di Teluk bisa tertunda. Keterlambatan perbaikan akan merugikan operator, pusat data, bank, perusahaan teknologi, dan pengguna biasa yang bergantung pada koneksi stabil.
Negara Teluk Paling Rentan Terkena Tekanan Digital
Kawasan Teluk sedang membangun ekonomi digital secara agresif. Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, Bahrain, dan Kuwait mendorong pusat data, kecerdasan buatan, layanan awan, serta jaringan keuangan digital. Semua agenda itu membutuhkan kabel bawah laut dan jaringan darat yang kuat.
Tidak Semua Negara Bergantung Pada Satu Jalur
TeleGeography menyebut Bahrain, Kuwait, dan Qatar memiliki koneksi darat ke Arab Saudi, sementara Kuwait juga terhubung ke Irak. Uni Emirat Arab memiliki koneksi darat dengan negara tetangga, sedangkan sebagian besar kabel bawah lautnya mendarat di Fujairah yang menghadap Teluk Oman. Arab Saudi juga memiliki banyak pendaratan kabel di Laut Merah, bukan hanya pesisir Teluk.
Artinya, tidak semua negara Teluk akan langsung lumpuh jika kabel di Selat Hormuz bermasalah. Namun, jalur darat belum tentu cukup kuat untuk menampung semua lalu lintas jika sistem bawah laut terganggu bersamaan.
Pusat Data Membutuhkan Koneksi Stabil
Pusat data modern tidak hanya membutuhkan listrik dan bangunan aman. Mereka juga membutuhkan koneksi internasional yang cepat, stabil, dan memiliki banyak cadangan. Ketika kabel terganggu, pusat data harus mengalihkan lalu lintas ke rute lain. Pengalihan ini bisa menaikkan latensi dan menurunkan kualitas layanan.
Bagi perusahaan keuangan, perdagangan digital, serta layanan komputasi awan, keterlambatan kecil pun bisa berarti biaya besar. Karena itu, ancaman terhadap kabel bawah laut tidak hanya menyangkut internet lambat, tetapi juga kepercayaan investor terhadap kawasan.
Iran Sedang Memperluas Bahasa Kendali Di Hormuz
Pada 12 Mei 2026, Reuters melaporkan bahwa seorang perwira senior Angkatan Laut Garda Revolusi Iran menyebut Iran telah memperluas definisi Selat Hormuz menjadi wilayah operasional yang jauh lebih besar. Pernyataan itu menyebut kawasan strategis dari Jask di timur sampai Pulau Siri di barat.
Sinyal Politik Kepada Lawan Regional
Pelebaran definisi ini memberi sinyal bahwa Iran ingin memosisikan Hormuz bukan hanya sebagai jalur laut sempit, melainkan area strategis yang lebih luas. Dalam bahasa politik keamanan, klaim semacam ini dapat digunakan untuk menekan lawan, menawar posisi diplomatik, dan menunjukkan bahwa Iran masih memiliki kartu kuat di kawasan.
Jika dikaitkan dengan kabel bawah laut, pesan yang muncul menjadi lebih tajam. Iran seolah ingin mengatakan bahwa jalur energi dan jalur data sama sama berada dalam bayang bayang kekuatan geografisnya.
Antara Retorika Dan Kebijakan Nyata
Meski pernyataan media terkait Iran terdengar keras, tidak semua usulan otomatis berubah menjadi kebijakan negara. Ada jarak antara artikel media, sinyal politik, dan aturan resmi yang bisa diberlakukan kepada operator kabel internasional.
Karena itu, istilah mesin uang baru Iran masih perlu dibaca sebagai wacana yang sedang diuji. Iran mungkin memperoleh nilai tawar politik dari isu ini, tetapi untuk benar benar menarik bayaran rutin dari kabel internasional, negara itu harus menghadapi aturan hukum, posisi Oman, kepentingan perusahaan global, dan tekanan negara negara pengguna kabel.
Mesin Uang Atau Alat Tawar Baru?
Gagasan memonetisasi kabel internet di Selat Hormuz memang menarik dari sudut ekonomi politik. Jika negara dapat menarik biaya dari lalu lintas data global, sumber penerimaannya bisa sangat besar. Namun, model seperti itu belum tentu bisa dijalankan secara legal dan aman.
Pungutan Resmi Sulit Diterapkan Tanpa Kesepakatan
Untuk menjadi mesin uang nyata, Iran perlu memiliki dasar kewenangan yang dapat diterima operator kabel dan negara lain. Jika pungutan dipaksakan sepihak, hal itu berisiko memicu sengketa hukum, protes diplomatik, dan pengalihan investasi ke rute alternatif.
Perusahaan teknologi dan telekomunikasi biasanya mencari jalur yang paling stabil. Jika satu kawasan dianggap terlalu politis atau mahal, konsorsium kabel baru dapat memilih rute lain, meskipun biaya pembangunan lebih tinggi. Dalam jangka panjang, sikap terlalu agresif justru dapat membuat jalur tersebut dihindari.
Nilai Tawar Lebih Cepat Terasa Daripada Uang Tunai
Yang lebih cepat terasa bagi Iran bukan uang langsung dari kabel, melainkan nilai tawar. Dengan menyebut kabel internet sebagai titik tekanan, Iran menambah daftar aset strategis yang dapat dibawa ke meja diplomasi. Sebelumnya, Hormuz identik dengan minyak. Kini, Iran mencoba menambahkan lapisan digital ke dalam perhitungan global.
“Selat Hormuz tidak lagi bisa dilihat hanya sebagai jalur tanker. Di bawah airnya ada jaringan data yang menghidupi transaksi, pusat data, komunikasi, dan layanan digital lintas negara.”
Kenapa Indonesia Perlu Memperhatikan Isu Ini
Bagi Indonesia, isu ini tetap relevan meski jaraknya jauh. Layanan digital global terhubung melalui banyak jalur lintas negara. Gangguan pada titik sempit seperti Hormuz dapat mengubah rute data, menaikkan biaya konektivitas, dan memberi tekanan pada layanan yang dipakai perusahaan maupun pengguna biasa.
Layanan Digital Tidak Berdiri Sendiri
Aplikasi yang dipakai masyarakat Indonesia bisa memakai server di beberapa kawasan sekaligus. Perusahaan finansial, platform perdagangan daring, gim, layanan awan, dan komunikasi bisnis sering bergantung pada jaringan global. Bila salah satu koridor digital besar terganggu, operator akan mengalihkan arus data ke jalur lain.
Pengguna mungkin tidak selalu melihat gangguan besar, tetapi perusahaan jaringan dapat menghadapi biaya tambahan, rute lebih panjang, dan beban trafik lebih padat di titik lain. Dalam bisnis digital, stabilitas jalur internasional menjadi bagian dari keamanan ekonomi.
Peta Internet Dunia Sedang Dibaca Ulang
Isu Hormuz memperlihatkan bahwa kabel bawah laut kini menjadi bagian dari perhitungan keamanan nasional. Negara tidak hanya mengamankan pelabuhan, bandara, dan kilang minyak, tetapi juga titik pendaratan kabel, pusat data, serta jalur serat optik lintas laut.
Bagi negara berkembang yang ingin memperkuat ekonomi digital, pelajaran dari Hormuz cukup jelas. Ketergantungan pada satu jalur terlalu berisiko. Perlu banyak rute, banyak titik pendaratan, kerja sama internasional, dan aturan yang memberi kepastian bagi operator kabel.
Jalur Digital Sebagai Sumber Kekuatan Baru
Selat Hormuz sedang menunjukkan wajah barunya. Di permukaan, kapal tanker tetap menjadi simbol kekuatan kawasan. Di dasar laut, kabel serat optik membawa kepentingan yang tidak kalah besar. Inilah alasan isu kabel internet dapat menjadi bahan tekanan politik, bahan tawar ekonomi, dan bahan perdebatan hukum internasional.
Iran Punya Posisi Geografis, Tetapi Tidak Bebas Bergerak
Iran memang berada di sisi utara Selat Hormuz dan memiliki kemampuan militer yang membuat banyak negara berhitung. Namun, posisi geografis tidak memberi kebebasan mutlak. Banyak kabel disebut berada di perairan Oman saat melintasi selat. Jalur pelayaran juga diatur hukum internasional.
Dengan demikian, mesin uang dari kabel internet belum tentu mudah diwujudkan. Yang lebih nyata untuk saat ini adalah pemakaian isu kabel sebagai pesan keras kepada negara Teluk dan Barat bahwa jalur digital pun bisa masuk ke arena perebutan pengaruh.
Operator Kabel Akan Mencari Jalur Aman
Perusahaan telekomunikasi, pemilik pusat data, dan penyedia layanan awan tidak menyukai ketidakpastian. Mereka akan mencari rute yang aman, memiliki cadangan, dan tidak terlalu rentan terhadap konflik. Jika Hormuz dinilai makin berisiko, investasi kabel baru bisa diarahkan ke jalur lain melalui darat, Laut Merah, atau rute alternatif yang lebih mahal tetapi dianggap lebih stabil.
Di titik ini, Iran menghadapi pilihan sulit. Mengubah kabel internet menjadi sumber uang mungkin tampak menguntungkan, tetapi tekanan berlebihan dapat membuat operator global menjauh. Sebaliknya, menjaga jalur tetap aman dapat memberi Iran pengaruh diplomatik yang lebih halus, tanpa harus memicu perlawanan besar dari industri digital internasional.




















