Nvidia dan Unitree Siapkan H2 Plus, Robot Humanoid untuk Riset AI Fisik

Teknologi0 Views

Nvidia dan Unitree Siapkan H2 Plus, Robot Humanoid untuk Riset AI Fisik Nvidia kembali memperkuat posisinya di bidang kecerdasan buatan dengan masuk lebih dalam ke pengembangan robot humanoid. Perusahaan chip asal Amerika Serikat itu menggandeng Unitree Robotics dari China dan Sharpa yang berbasis di Singapura untuk menghadirkan H2 Plus, robot humanoid yang disiapkan sebagai desain acuan bagi kalangan akademik dan pengembang robot.

Peluncuran ini menjadi perhatian besar karena Nvidia tidak hanya menghadirkan chip, tetapi juga membangun satu paket lengkap yang memadukan tubuh robot, tangan taktil, sensor, komputasi AI, perangkat lunak, simulasi, hingga alur pelatihan robot. Dengan H2 Plus, Nvidia ingin membuat riset robot humanoid lebih mudah diakses oleh universitas, laboratorium, dan tim pengembang yang ingin menguji kemampuan robot di dunia nyata.

H2 Plus Hadir Sebagai Robot Humanoid Acuan

H2 Plus diperkenalkan sebagai bagian dari NVIDIA Isaac GR00T Reference Humanoid Robot. Istilah ini menunjukkan bahwa perangkat tersebut bukan sekadar robot komersial biasa, melainkan model acuan yang dapat dipakai untuk penelitian, pengujian, dan pengembangan kemampuan robot humanoid secara lebih terarah.

Unitree menyediakan tubuh robot humanoid H2 Plus. Bodi ini dirancang menyerupai ukuran manusia, dengan tinggi hampir 6 kaki dan bobot sekitar 150 pon. Ukuran tersebut membuat robot ini cocok untuk pengujian gerakan, interaksi, pengangkatan benda, serta tugas yang membutuhkan proporsi tubuh mendekati manusia.

Sharpa menyumbang tangan robot lima jari bernama Sharpa Wave. Tangan ini menjadi komponen penting karena robot humanoid tidak cukup hanya bisa berjalan. Robot juga harus mampu menggenggam, menyentuh, memindahkan, dan memanipulasi benda dengan presisi. Kehadiran tangan taktil membuat H2 Plus lebih layak dipakai untuk riset pekerjaan fisik.

Nvidia menjadi penyedia otak komputasi dan perangkat lunak. Perusahaan ini menanamkan Jetson AGX Thor T5000 sebagai pusat pemrosesan, lalu menghubungkannya dengan platform Isaac GR00T untuk simulasi, pelatihan, evaluasi, dan penerapan kemampuan robot.

Nvidia Tidak Membuat Robot Sendiri, tetapi Menyediakan Otaknya

Langkah Nvidia menarik karena perusahaan ini tidak bergerak sebagai produsen robot secara penuh. Nvidia memilih membangun ekosistem. Tubuh robot datang dari Unitree, tangan datang dari Sharpa, sementara Nvidia menyediakan komputasi, model AI, sistem pengembangan, dan lapisan keamanan.

Strategi ini mirip dengan cara Nvidia membangun perannya di pusat data dan kendaraan otonom. Perusahaan tidak harus membuat seluruh perangkat akhir, tetapi menyediakan teknologi inti yang membuat banyak produsen dapat membangun produk di atas platform yang sama. Dalam robot humanoid, Nvidia ingin menjadi penyedia otak dan sistem pelatihan.

Jetson AGX Thor T5000 menjadi komponen utama. Chip ini dibangun dengan GPU Blackwell dan diklaim memiliki kemampuan AI hingga 2.070 FP4 teraflops. Di dalamnya terdapat CPU Arm 14 core, memori terpadu 128GB, serta rentang daya yang dapat disesuaikan antara 40 sampai 130 watt.

Kemampuan seperti itu dibutuhkan karena robot humanoid harus memproses banyak data secara langsung. Kamera, sensor gerak, mikrofon, tangan taktil, dan kontrol motor harus bekerja serempak. Bila komputasi terlambat, gerakan robot bisa menjadi kaku, tidak stabil, atau gagal merespons lingkungan.

“Nilai besar H2 Plus bukan hanya pada tubuh robotnya, tetapi pada cara Nvidia menyatukan otak AI, sensor, tangan, dan perangkat lunak dalam satu jalur kerja yang lebih mudah diuji peneliti.”

Unitree Menjadi Mitra China yang Disorot

Unitree Robotics menjadi nama penting dalam proyek H2 Plus. Perusahaan asal China ini sebelumnya dikenal melalui robot berkaki empat dan robot humanoid yang sering tampil dalam pameran teknologi. Unitree juga mendapat sorotan internasional setelah robotnya tampil dalam acara besar di China.

Keterlibatan Unitree memperlihatkan kuatnya posisi perusahaan China dalam rantai pengembangan robot fisik. Banyak produsen China mampu membuat motor, aktuator, rangka, baterai, sensor, dan sistem mekanik dengan biaya yang semakin kompetitif. Hal ini membuat mereka cepat bergerak di bidang robot humanoid.

Namun kerja sama Nvidia dengan Unitree juga tidak lepas dari perhatian politik dan keamanan. Reuters melaporkan ada kekhawatiran dari sejumlah pihak di Amerika Serikat terkait hubungan Unitree dengan pemerintah dan militer China. Nvidia sendiri menyebut kerja sama ini juga diarahkan untuk meningkatkan keamanan robot bagi kalangan peneliti.

Dalam desain H2 Plus, pembaruan perangkat lunak untuk subsistem robot disebut harus melalui chip Nvidia, sehingga kode dapat diperiksa keasliannya. Nvidia juga membawa fitur keamanan yang biasa dipakai di server pusat data, seperti secure boot dan confidential computing. Tujuannya agar robot tidak menjalankan kode berbahaya dan data sensitif tidak keluar tanpa izin.

Sharpa Wave Membuat Tangan Robot Lebih Presisi

Tangan robot menjadi salah satu bagian paling sulit dalam pengembangan humanoid. Berjalan saja belum cukup. Robot harus bisa mengambil benda kecil, membuka alat, memegang barang rapuh, memutar objek, dan menyesuaikan tekanan sentuhan. Karena itu, kehadiran Sharpa Wave pada H2 Plus menjadi bagian yang penting.

Tangan Sharpa Wave memiliki lima jari dengan kemampuan taktil. Setiap tangan membawa 22 derajat kebebasan. Jika digabung dengan tubuh robot, sistem H2 Plus mencapai 75 derajat kebebasan. Angka ini menggambarkan banyaknya titik gerak yang dapat dikendalikan robot.

Semakin banyak titik gerak, semakin luas pula gerakan yang dapat dilakukan. Namun hal itu juga membuat pengendalian robot menjadi jauh lebih rumit. Robot harus mengatur keseimbangan tubuh, posisi lengan, tekanan genggaman, arah pandangan, dan respons sensor dalam waktu hampir bersamaan.

Bagi riset akademik, tangan robot seperti ini sangat berharga. Peneliti dapat menguji cara robot belajar dari demonstrasi manusia, memahami bentuk benda, menyesuaikan kekuatan genggaman, dan menjalankan tugas yang membutuhkan koordinasi halus.

Sensor Multi Sudut Membantu Robot Membaca Lingkungan

H2 Plus memakai sistem sensor multi sudut agar robot mampu membaca lingkungan di sekitarnya. Salah satu komponen yang ditonjolkan adalah kamera stereo di bagian kepala dengan bidang pandang lebar. Kamera ini memberi robot kemampuan melihat ruang depan dengan jangkauan horizontal dan vertikal yang luas.

Selain kamera kepala, tersedia pula kamera pergelangan tangan untuk mendukung manipulasi jarak dekat. Kamera ini membantu robot melihat benda yang sedang dipegang atau akan digerakkan. Dalam tugas mengambil objek di meja, kamera pergelangan dapat memberi informasi detail yang tidak selalu terlihat jelas dari kamera kepala.

Robot juga dilengkapi unit pengukuran inersia untuk melacak gerakan tubuh. Sensor seperti ini penting untuk menjaga keseimbangan, mengetahui arah gerakan, dan membantu sistem kontrol menyesuaikan posisi tubuh saat berjalan atau mengangkat benda.

Dengan gabungan kamera, sensor gerak, mikrofon, dan sistem komputasi AI, H2 Plus diarahkan untuk menjadi platform riset robot yang mampu memahami ruang fisik dengan lebih baik. Inilah yang disebut Nvidia sebagai physical AI, yaitu AI yang tidak hanya menjawab lewat teks atau gambar, tetapi bergerak dan bekerja melalui tubuh robot.

Isaac GR00T Menjadi Platform Pengembangan

Nvidia tidak hanya menyiapkan perangkat keras. Perusahaan juga membawa Isaac GR00T sebagai platform pengembangan robot humanoid. Platform ini mencakup pengumpulan data demonstrasi, simulasi, pelatihan model, evaluasi, sampai penerapan kemampuan pada robot nyata.

Dalam riset robot, proses pelatihan sering menjadi pekerjaan berat. Peneliti perlu mengumpulkan data, membuat lingkungan simulasi, menguji gerakan, mengatur ulang model, lalu mencoba lagi pada robot fisik. Tanpa alur yang rapi, setiap tim harus membangun banyak komponen dari awal.

Isaac GR00T dirancang untuk menyatukan proses itu. Peneliti dapat memakai Isaac Teleop untuk menangkap data demonstrasi, Isaac Sim dan Isaac Lab untuk simulasi, serta Isaac ROS untuk membawa kemampuan yang sudah dilatih ke robot. Dengan cara ini, proses dari ide ke pengujian fisik dapat berjalan lebih teratur.

Platform ini juga dibuat terbuka bagi pengembang. Artinya, tim riset tetap dapat mengelola data, log, dan pelatihan mereka sendiri. Nvidia menyediakan fondasi, sementara peneliti masih bisa mengembangkan pendekatan masing masing.

H2 Plus Ditujukan Untuk Kampus dan Laboratorium

H2 Plus tidak diposisikan sebagai robot rumah tangga untuk konsumen umum. Nvidia menegaskan perangkat ini disiapkan untuk riset akademik dan pengembangan robot humanoid tingkat lanjut. Beberapa institusi yang disebut akan memakainya antara lain Ai2, ETH Zurich, Stanford Robotics Center, dan laboratorium robotika di University of California San Diego.

Penggunaan di lingkungan akademik penting karena robot humanoid masih membutuhkan banyak pengujian. Peneliti perlu memahami cara robot berjalan di permukaan berbeda, memegang benda beragam bentuk, merespons perintah suara, bekerja di ruang manusia, dan tetap aman saat berada dekat orang.

Robot humanoid juga harus diuji dalam tugas yang berulang. Misalnya mengambil barang dari rak, memindahkan kotak, membuka pintu, membersihkan meja, atau membantu pekerjaan laboratorium. Setiap tugas tampak sederhana bagi manusia, tetapi sangat rumit bagi robot.

Dengan desain acuan seperti H2 Plus, universitas dan laboratorium tidak perlu selalu membangun perangkat keras dari nol. Mereka dapat fokus pada algoritma, pembelajaran robot, interaksi manusia robot, dan pengujian perilaku fisik.

Daya Tahan Baterai Sekitar Tiga Jam

H2 Plus memiliki baterai berkapasitas 15Ah atau sekitar 0,972kWh. Nvidia dan Unitree menyebut daya tahan operasinya sekitar tiga jam. Angka ini memberi gambaran bahwa robot humanoid masih memiliki batas pemakaian yang cukup jelas.

Tiga jam sudah cukup untuk sesi riset, pengujian gerakan, demonstrasi, atau eksperimen laboratorium. Namun untuk penggunaan industri penuh sepanjang hari, robot seperti ini masih membutuhkan sistem pengisian, penggantian baterai, atau jadwal kerja yang tertata.

Daya tahan baterai menjadi tantangan umum pada robot humanoid. Robot harus menggerakkan banyak motor, memproses data sensor, menjalankan AI, menjaga keseimbangan, dan mengoperasikan tangan. Semua itu menguras energi lebih besar dibanding perangkat elektronik biasa.

Karena itu, efisiensi komputasi menjadi penting. Jetson Thor dirancang agar bisa memberi pemrosesan AI besar di dalam robot dengan rentang daya yang dapat diatur. Pengembang dapat menyesuaikan kinerja dan konsumsi daya sesuai kebutuhan riset.

Keamanan Fisik Tetap Jadi Perhatian

H2 Plus merupakan robot dengan struktur kompleks dan tenaga besar. Unitree sendiri memberi peringatan bahwa pengguna harus menjaga jarak aman dan memakai robot dengan hati hati. Hal ini wajar karena robot humanoid memiliki motor kuat, lengan bergerak, kaki bergerak, serta kemampuan mengangkat beban.

Nvidia menyertakan fungsi emergency stop dari jarak jauh. Fitur ini memungkinkan operator menghentikan robot dengan cepat bila terjadi gerakan yang tidak diinginkan. Dalam lingkungan riset, tombol penghentian darurat menjadi hal penting karena robot sering diuji dengan algoritma baru.

Keselamatan tidak hanya berhubungan dengan robot yang jatuh atau menabrak. Ada pula risiko tangan robot menggenggam terlalu kuat, lengan bergerak ke arah manusia, atau robot kehilangan keseimbangan saat membawa beban. Karena itu, penggunaan humanoid harus mengikuti prosedur ketat.

“Robot humanoid terlihat mengesankan saat berjalan dan bekerja, tetapi setiap gerakan fisiknya harus diperlakukan sebagai sistem mesin bertenaga tinggi yang wajib diawasi.”

Robot Ini Bukan Untuk Konsumen Biasa

Meski tampil menarik, H2 Plus bukan produk yang cocok dibeli pengguna rumahan biasa. Unitree menyatakan industri robot humanoid global masih berada pada tahap awal eksplorasi. Pengguna individu diminta memahami keterbatasan robot sebelum membeli.

Peringatan ini penting karena banyak video robot humanoid yang terlihat mudah melakukan berbagai tugas. Di balik video singkat itu, ada proses teknis panjang, ruang pengujian, operator, perangkat lunak, dan batas kemampuan yang tidak selalu terlihat oleh publik.

Robot humanoid belum bisa disamakan dengan perangkat rumah tangga seperti vacuum robot atau speaker pintar. Mengoperasikan humanoid membutuhkan pemahaman teknis, ruang aman, pembaruan perangkat lunak, perawatan mekanik, serta kesiapan menghadapi kegagalan gerak.

Karena itu, H2 Plus lebih tepat dilihat sebagai alat riset, bukan asisten rumah siap pakai. Nilainya berada pada kemampuan membantu peneliti menguji sistem AI fisik, bukan pada kemampuan langsung menggantikan pekerjaan manusia di rumah.

Nvidia Memperluas Mitra di Luar China

Meski menggandeng Unitree, Nvidia juga disebut ingin bekerja dengan pembuat robot humanoid di Amerika Serikat, Eropa, dan Korea Selatan. Langkah ini menunjukkan bahwa Nvidia tidak ingin bergantung pada satu mitra robotik saja.

Kerja sama lintas wilayah memberi Nvidia posisi yang lebih fleksibel. Perusahaan dapat menyediakan platform yang sama untuk berbagai tubuh robot dari produsen berbeda. Bila Isaac GR00T dan Jetson Thor menjadi standar de facto, Nvidia bisa berada di tengah ekosistem robot humanoid global.

Bagi pengembang, hal ini juga menguntungkan. Mereka dapat memakai alat pelatihan, simulasi, dan komputasi Nvidia pada berbagai jenis robot. Dengan begitu, kemampuan yang dikembangkan di satu platform lebih mudah disesuaikan ke platform lain.

Di sisi bisnis, strategi ini memperluas pasar Nvidia di luar pusat data. Setelah GPU menjadi tulang punggung AI generatif, perusahaan kini bergerak ke AI fisik. Robot humanoid menjadi salah satu bidang yang dianggap dapat membuka peluang ekonomi sangat besar.

Persaingan Robot Humanoid Semakin Ramai

Peluncuran H2 Plus terjadi saat persaingan robot humanoid makin ramai. Tesla memiliki Optimus, Figure AI mengembangkan robot pekerja industri, Boston Dynamics mendorong Atlas generasi baru, sementara sejumlah perusahaan China seperti Unitree, UBTech, dan Xpeng bergerak cepat dengan pendekatan masing masing.

Setiap perusahaan membawa keunggulan berbeda. Ada yang kuat di mekanik, ada yang unggul dalam AI, ada yang fokus pada pabrik, dan ada pula yang mengincar riset. Nvidia memilih mengambil posisi sebagai penyedia platform komputasi dan perangkat lunak untuk banyak pemain.

Pendekatan ini bisa membuat Nvidia menjadi bagian dari banyak robot, bukan hanya satu merek. Jika humanoid berkembang luas, chip dan perangkat lunak Nvidia berpotensi menjadi komponen inti di balik berbagai robot dari perusahaan berbeda.

Namun jalan menuju robot humanoid yang benar benar andal masih panjang. Robot harus aman, tahan lama, mudah dirawat, hemat energi, mampu belajar, dan bekerja stabil di lingkungan manusia yang tidak selalu teratur.

H2 Plus Menjadi Langkah Baru Dalam AI Fisik

H2 Plus menandai babak penting dalam upaya membawa AI keluar dari layar komputer menuju dunia fisik. Selama ini, AI banyak dikenal melalui chatbot, gambar, video, dan perangkat lunak. Robot humanoid memberi tantangan berbeda karena AI harus memahami ruang, benda, gerakan, keseimbangan, dan interaksi langsung dengan manusia.

Nvidia melihat bidang ini sebagai peluang besar. Jensen Huang menyebut humanoid dapat membawa physical AI ke industri terbesar di dunia. Pernyataan itu menunjukkan keyakinan Nvidia bahwa robot tidak akan berhenti sebagai alat demonstrasi, tetapi dapat menjadi pekerja fisik dalam berbagai sektor.

H2 Plus menjadi jembatan antara riset dan penerapan nyata. Dengan bodi Unitree, tangan Sharpa, komputasi Jetson Thor, dan perangkat lunak Isaac GR00T, robot ini memberi peneliti satu paket yang lebih lengkap untuk menguji kemampuan AI fisik.

Mulai akhir 2026, H2 Plus dijadwalkan tersedia melalui Unitree. Dari kampus, laboratorium, hingga pusat riset robotika, platform ini akan menjadi salah satu alat penting untuk menguji sejauh mana robot humanoid dapat bergerak, melihat, menggenggam, belajar, dan bekerja dengan lebih mandiri di ruang nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *