Bisnis Lapangan Padel, Modal Besar tapi Peluangnya Menarik

Headline3 Views

Bisnis lapangan padel sekarang mulai dilihat sebagai salah satu usaha gaya hidup yang punya daya tarik kuat di kota besar. Bukan cuma karena olahraganya sedang naik, tetapi karena padel berhasil masuk ke pasar yang sangat sosial, visual, dan dekat dengan komunitas kelas menengah atas. Di Jakarta, minat terhadap padel naik cepat, sementara jumlah lapangan masih terbatas. Cekindo bahkan menulis bahwa Jakarta masih memiliki kurang dari 60 lapangan fungsional, jauh di bawah kebutuhan kota sebesar itu.

Itulah sebabnya bisnis ini sering cocok dibidik untuk segmen koko dan cici kaya. Pasarnya bukan sekadar penyewa lapangan olahraga, melainkan orang yang juga mencari tempat nongkrong, networking, coaching privat, konten media sosial, dan aktivitas komunitas yang terasa premium. Dari contoh venue yang sudah berjalan di Jakarta, harga sewa per jam berada di kisaran menengah sampai premium, mulai sekitar Rp315.000 sampai Rp450.000 per jam di PadelPro Kemang, Rp400.000 per jam di Smash Padel Simatupang, hingga Rp500.000 per jam di House of Padel.

Kalau dilihat dari sisi investor, daya tarik utamanya sederhana. Satu lapangan bisa dijual berkali kali setiap hari, jam prime time bisa diisi komunitas dan office crowd, lalu di luar sewa reguler masih ada pemasukan dari coaching, turnamen, membership, rental raket, minuman, sampai sponsorship kecil. Jadi, orang yang bertanya “berapa untungnya dan berapa modalnya” memang perlu melihat padel bukan sebagai lapangan semata, melainkan sebagai bisnis sport lifestyle. Secara global, pertumbuhan olahraga ini juga masih kuat, dengan FIP World Padel Report 2025 menegaskan bahwa padel terus tumbuh lewat partisipasi, kompetisi, dan ekspansi internasional.

Kenapa padel cocok dijual ke pasar premium

Padel punya karakter yang berbeda dari futsal, badminton, atau tenis biasa. Permainannya sosial, relatif cepat dipelajari oleh pemula, dan sangat cocok dimainkan berempat. Itu membuat padel mudah dijual sebagai aktivitas networking dan leisure, bukan hanya olahraga serius. Venue premium di Jakarta juga tidak menjual lapangan saja, tetapi pengalaman. House of Padel menonjolkan lokasi di gedung tinggi dengan fasilitas lengkap, sedangkan Racquet Padel Club dan klub lain menggabungkan clubhouse, komunitas, dan pelatihan.

Untuk segmen koko dan cicikaya, nilai jual utamanya justru ada pada positioning. Orang mau bayar lebih mahal kalau tempatnya terasa rapi, aman, estetik, ada shower bagus, area duduk nyaman, kopi enak, valet atau parkir mudah, dan crowd yang sesuai. Itulah mengapa venue premium bisa mematok harga lebih tinggi daripada lapangan standar. Di Jakarta sendiri, artikel NOW! Jakarta dan Indonesia Expat menunjukkan adanya rentang harga yang cukup lebar antar club, menandakan bahwa pasar sudah mulai menerima diferensiasi premium.

Dari sudut bisnis, ini menguntungkan karena margin usaha olahraga biasanya tipis kalau hanya menjual sewa lapangan. Padel punya peluang lebih menarik justru saat dibungkus menjadi lifestyle hub. Semakin kuat komunitas dan brand tempat, semakin besar peluang pemain kembali, membawa teman, ikut coaching, dan membayar membership. Situs House of Padel sendiri menonjolkan konsep membership dan pay as you go, yang menunjukkan bahwa model pendapatan berulang memang menjadi bagian penting dalam bisnis seperti ini.

Modal awal yang harus disiapkan

Modal terbesar dalam bisnis padel biasanya ada pada tiga pos utama, yaitu lahan atau sewa lokasi, pembangunan lapangan, dan fasilitas penunjang. Cekindo menulis bahwa tantangan utama membuka padel court di Jakarta adalah biaya real estate yang tinggi, biaya konstruksi, fasilitas seperti toilet dan reception, serta impor dan instalasi peralatan.

Untuk biaya pembangunan lapangan, angkanya memang bisa berbeda jauh tergantung standar. LTA Padel Inggris memberi kisaran biaya pembangunan padel court di Great Britain sekitar £60.000 sampai £200.000, tergantung jumlah lapangan serta apakah termasuk lampu, drainase, dan pondasi. Sumber lain dari RagaSport menyebut kisaran 2025 sebesar US$25.000 sampai US$65.000 per court, tergantung apakah outdoor, indoor, panoramic, dan fitur tambahan. PadelSpor juga menempatkan kisaran harga 2025 untuk lapangan outdoor sekitar €30.000 sampai €45.000, indoor €40.000 sampai €60.000, dan panoramic €55.000 sampai €75.000.

Kalau angka itu dibawa ke Indonesia, investor harus berhati hati. Harga global tadi belum otomatis sama dengan total biaya jadi di Jakarta atau Surabaya, karena masih ada ongkos lahan, pengurusan, pajak, struktur atap bila indoor, pekerjaan sipil, drainase, listrik, clubhouse, AC bila indoor penuh, dan interior. Jadi, untuk hitungan realistis, bisnis padel premium hampir pasti tidak cukup hanya menghitung harga frame dan rumput sintetis.

Agar lebih gampang, berikut gambaran modal awal yang masuk akal untuk proyek padel skala kecil premium 2 court di kota besar Indonesia.

KomponenEstimasi bawahEstimasi atas
2 lapangan padel lengkapRp1,0 miliarRp2,2 miliar
Pekerjaan sipil, pondasi, drainaseRp400 jutaRp900 juta
Atap atau semi indoorRp300 jutaRp1,2 miliar
Lampu, listrik, panelRp100 jutaRp250 juta
Clubhouse kecil, toilet, shower, receptionRp300 jutaRp900 juta
Furniture, POS, branding, signageRp75 jutaRp250 juta
Raket sewa, bola, perlengkapan awalRp25 jutaRp75 juta
Legalitas, desain, kontingensiRp150 jutaRp400 juta
Total estimasi 2 courtRp2,35 miliarRp6,18 miliar

Tabel ini adalah model estimasi berbasis kisaran biaya pembangunan global per court ditambah komponen lokal yang disebut Cekindo seperti lahan, fasilitas, dan setup. Jadi angka ini bukan tarif baku vendor, tetapi hitungan kerja yang lebih mendekati realitas proyek komersial premium di Indonesia.

Kalau sewanya lahan, berapa tambahan bebannya

Banyak investor tidak langsung membeli lahan. Mereka menyewa lahan kosong, rooftop, atau area komersial. Di kota besar, ini justru sering lebih realistis, tetapi konsekuensinya fixed cost bulanan naik. Cekindo menekankan bahwa biaya lahan di area seperti Kemang, SCBD, atau PIK menjadi salah satu tantangan utama bisnis padel di Jakarta.

Kalau targetnya segmen premium, lokasi memang tidak bisa terlalu pinggir. Masalahnya, makin strategis lokasi, makin tinggi beban sewanya. Maka bisnis padel untuk pasar kaya biasanya hanya masuk akal bila salah satu dari dua kondisi terpenuhi. Pertama, pemilik sudah punya lahannya sendiri. Kedua, venue berhasil menjual positioning premium sehingga harga sewa lapangan, coaching, dan F&B bisa mengimbangi biaya lokasi. Inilah alasan mengapa tidak semua padel club harus berada di jantung CBD, tetapi tetap harus berada di area yang nyaman diakses mobil pribadi dan dekat kantong pasar affluent.

Berapa omzet lapangan padel per bulan

Supaya masuk ke hitungan untung, kita pakai asumsi yang sederhana dan transparan. Harga pasar Jakarta saat ini berada di rentang sekitar Rp315.000 sampai Rp500.000 per jam, sementara venue entry level tertentu bisa mulai dari Rp150.000. Untuk model premium, saya pakai asumsi konservatif Rp400.000 per jam per court, karena angka ini sesuai dengan Smash Padel Simatupang dan masih di tengah rentang pasar premium Jakarta.

Lalu kita buat tiga skenario okupansi untuk 2 lapangan.

SkenarioJam jual per court per hariTarif rata rataOmzet bulanan 2 court
Sepi5 jamRp400.000Rp120.000.000
Menengah8 jamRp400.000Rp192.000.000
Ramai11 jamRp400.000Rp264.000.000

Rumusnya sederhana: jumlah jam terjual x tarif x jumlah court x 30 hari. Ini baru omzet sewa lapangan, belum termasuk coaching, membership, event, rental equipment, dan F&B. Karena itu, kalau tempat berhasil ramai, pendapatan total sebenarnya bisa lebih tinggi dari angka tabel. Hitungan ini adalah model finansial berbasis harga pasar venue Jakarta yang sudah tayang publik.

Pendapatan tambahan yang sering justru bikin bisnis ini menarik

Banyak investor keliru karena mengira untung padel hanya dari sewa court. Padahal, bisnis yang sehat biasanya punya beberapa lapisan pemasukan. Contoh venue di Jakarta sudah menonjolkan coaching, equipment rental, membership, sampai event komunitas. NOW! Jakarta menyebut PadelPro Kemang punya coaching Rp254.000 sampai Rp675.000, Smash memasang private coaching Rp1.050.000 per jam termasuk court, dan House of Padel maupun venue lain aktif mendorong membership.

Kalau dirinci, tambahan pemasukan yang paling umum biasanya datang dari lima pos berikut.

Sumber pendapatanGambaran model
CoachingPrivate lesson, semi private, beginner clinic
MembershipDiskon jam main, prioritas booking, akses komunitas
Rental alatRaket, bola, handuk
F&BAir mineral, isotonic, kopi, snack, makanan ringan
EventTurnamen, corporate gathering, brand activation

Untuk venue premium, justru F&B dan event sering mempercantik margin. Orang yang datang bermain padel jarang hanya datang untuk 60 menit lalu pergi. Mereka sering nongkrong sebelum atau sesudah main. Itu sebabnya clubhouse, kopi, smoothie, dan area duduk yang bagus bukan aksesori, tetapi alat monetisasi. Model seperti ini juga terlihat dari venue venue yang memasarkan diri sebagai social club, bukan sekadar penyedia court.

Biaya operasional bulanan yang harus dihitung

Kalau omzet bulanan sudah terlihat menarik, langkah berikutnya adalah jujur pada biaya bulanan. Pos pengeluaran utama biasanya meliputi sewa lahan atau bangunan, gaji staf, utilitas, maintenance rumput dan kaca, lampu, marketing, software booking, pajak, dan replacement alat. Cekindo juga menyoroti bahwa selain lisensi usaha, operator harus memikirkan biaya fasilitas dan kesiapan legal di Jakarta.

Untuk venue 2 court premium, gambaran biaya operasional bulanan bisa seperti ini.

Komponen operasionalEstimasi bulanan
Sewa lokasiRp40 juta sampai Rp120 juta
Gaji staf front desk, cleaning, supervisorRp20 juta sampai Rp45 juta
Utilitas listrik, air, internetRp10 juta sampai Rp30 juta
Marketing dan komunitasRp8 juta sampai Rp25 juta
Maintenance court dan perlengkapanRp5 juta sampai Rp15 juta
Sistem booking, admin, softwareRp2 juta sampai Rp8 juta
Lain lain dan kontingensiRp5 juta sampai Rp15 juta
Total OPEXRp90 juta sampai Rp258 juta

Angka di atas tentu sangat tergantung lokasi dan skala. Venue indoor penuh dengan AC dan area premium akan punya biaya lebih tinggi daripada semi outdoor sederhana. Tetapi tabel ini memberi gambaran bahwa bisnis padel bisa kelihatan sexy di omzet, lalu terasa berat kalau lokasi mahal dan okupansi tidak stabil. Karena itu, keputusan bisnisnya harus bertumpu pada occupancy plan, bukan sekadar ikut tren.

Jadi berapa untungnya

Sekarang kita pakai skenario menengah yang cukup sehat. Misalnya 2 court, tarif rata rata Rp400.000 per jam, penjualan 8 jam per court per hari. Maka omzet sewa lapangan sekitar Rp192 juta per bulan. Tambahkan pendapatan sampingan konservatif dari coaching, membership, rental, dan F&B sebesar Rp30 juta sampai Rp60 juta per bulan, maka omzet total bisa berada di kisaran Rp222 juta sampai Rp252 juta per bulan. Angka coaching dan membership ini masuk akal melihat venue Jakarta memang menjual lesson dan membership secara aktif.

Kalau biaya operasional venue ada di level Rp120 juta sampai Rp170 juta per bulan, maka laba operasional kotor sebelum depresiasi dan pajak bisa berada di kisaran Rp52 juta sampai Rp132 juta per bulan. Itu artinya, secara kasar, proyek 2 court dengan modal Rp2,5 miliar sampai Rp4 miliar bisa punya payback period sekitar 2,5 sampai 5 tahun, tergantung okupansi, struktur sewa, dan seberapa kuat venue menjual premium experience. Ini adalah hasil kalkulasi berbasis asumsi yang diturunkan dari harga pasar Jakarta dan struktur biaya operasional tipikal venue olahraga butik.

Kalau venue sangat ramai, dengan penjualan 11 jam per court per hari, model keuntungannya bisa jauh lebih manis. Tetapi justru di sini jebakannya. Banyak orang membuat business plan seolah semua jam prime dan non prime akan langsung terisi. Padahal, padel tetap butuh komunitas, promosi, dan customer retention. FIP menegaskan olahraga ini tumbuh pesat, tetapi pertumbuhan global tidak otomatis menjamin semua venue lokal langsung penuh.

Model bisnis yang paling sehat untuk pasar koko dan cici kaya

Untuk segmen premium, model terbaik biasanya bukan sekadar open public court murah. Yang lebih kuat justru model hybrid. Ada jam public booking, ada member priority, ada coaching, ada social mixer, dan ada event. Dengan begitu, venue tidak terlalu bergantung pada orang yang hanya main sesekali. Venue membangun recurring revenue lewat komunitas. Model membership memang sudah terlihat di club club padel premium yang beroperasi saat ini.

Segmen koko dan cici kaya juga cenderung sensitif pada ambience. Mereka lebih rela bayar mahal untuk tempat yang crowd nya pas, booking gampang, area bersih, shower bagus, dan ada nilai sosial. Jadi, bisnis ini lebih dekat ke bisnis hospitality ringan daripada sekadar persewaan lapangan. Kalau pemilik hanya fokus pada pembangunan court tetapi pelit di reception, toilet, lighting ambience, dan F&B, hasilnya sering tanggung. Court ada, tetapi brand tidak terbentuk.

Risiko yang sering diremehkan

Risiko pertama adalah hype lebih cepat daripada demand nyata. Cekindo menulis bahwa awareness padel di Jakarta masih berkembang, sehingga operator perlu demo game, free trial, dan edukasi pasar. Artinya, pasar ini belum sepenuhnya matang.

Risiko kedua adalah beban fixed cost yang tinggi. Lokasi bagus dan bangunan premium memang menarik, tetapi kalau harga sewanya terlalu berat sementara okupansi belum stabil, cash flow bisa cepat sesak. Inilah kenapa venue yang punya lahan sendiri biasanya lebih aman daripada venue yang sangat tergantung sewa mahal.

Risiko ketiga adalah kompetisi yang makin rapi. Karena padel sedang naik, pemain baru terus masuk. Venue lama tidak cukup hanya buka lebih dulu. Mereka harus punya komunitas, sistem booking, pelatih, dan diferensiasi brand. Kalau tidak, perang harga bisa muncul dan menekan margin. Rentang harga Jakarta yang saat ini cukup lebar sudah menunjukkan bahwa pasar sedang mencari bentuk terbaiknya.

Siapa yang paling cocok masuk bisnis ini

Bisnis lapangan padel paling cocok untuk tiga tipe investor. Pertama, pemilik lahan yang ingin mengubah aset pasif menjadi sport lifestyle asset. Kedua, operator hospitality, F&B, atau fitness yang sudah paham mengelola komunitas premium. Ketiga, investor yang siap membangun brand, bukan cuma infrastruktur. Alasan utamanya jelas: padel bukan bisnis yang hanya menang di bangunan, tetapi juga di repetisi kunjungan dan suasana klub.

Kalau cuma ingin untung dari sewa polos, bisnis ini masih bisa jalan, tetapi tidak maksimal. Nilai paling besar justru muncul saat lapangan padel dijadikan pusat aktivitas sosial. Semakin banyak orang merasa club itu bagian dari gaya hidup mereka, semakin mudah venue menaikkan yield per customer. Itulah alasan kenapa padel menarik untuk pasar koko dan cici kaya. Yang dijual bukan olahraga saja, tetapi identitas dan pergaulan.